Refleksi Hari Santri Nasional 2026 di Yayasan Pendidikan dan Sosial Baitul Makmur Malang
Oleh: Muhammad Romli, M.Ag.
Sejarah Hari Santri: Ketika Pesantren Menjadi Bagian dari Sejarah Bangsa
Sejarah bangsa ini tidak hanya ditulis dengan tinta para negarawan, tetapi juga dengan doa para kiai, ketekunan para santri, dan keberanian mereka yang memilih berdiri di barisan perjuangan. Dari bilik-bilik pesantren yang sederhana, lahir kesadaran bahwa mencintai agama tidak harus menjauhkan seseorang dari tanah air. Sebaliknya, kecintaan kepada agama justru menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam pengabdian kepada sesama dan bangsa.
Setiap 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional. Sebuah momentum yang bukan sekadar perayaan identitas, melainkan pengingat bahwa pesantren memiliki tempat penting dalam perjalanan Indonesia. Penetapan Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 merupakan pengakuan negara atas kontribusi ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta mengisi pembangunan bangsa.
Namun, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan setiap kali Hari Santri tiba: apakah kita sekadar merayakan masa lalu, atau sedang menyiapkan masa depan?
Pertanyaan ini penting, sebab sejarah tidak pernah meminta kita berhenti pada kekaguman. Sejarah justru menuntut keberanian untuk meneruskan perjuangan dalam bentuk yang sesuai dengan tantangan zaman. Jika dahulu santri berjuang menghadapi kolonialisme, hari ini mereka berhadapan dengan persoalan yang tidak kalah kompleks: krisis moral, kesenjangan sosial, disrupsi teknologi, kemiskinan, dan melemahnya karakter generasi muda.
Di Yayasan Pendidikan dan Sosial Baitul Makmur Malang, peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi ruang refleksi untuk meneguhkan kembali orientasi pendidikan. Santri bukan hanya generasi yang diharapkan mampu membaca kitab kuning, menghafal Al-Qur’an, atau menguasai ilmu agama. Mereka juga harus tumbuh menjadi manusia yang memiliki kepedulian sosial, kecakapan intelektual, dan keberanian mengambil tanggung jawab kebangsaan.
Hari Santri seharusnya tidak berhenti pada upacara, sarung, peci, dan lantunan selawat. Semua itu penting sebagai simbol tradisi. Tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai di balik simbol tersebut menjelma menjadi karakter, cara berpikir, dan tindakan nyata.
Resolusi Jihad: Dari Semangat Mempertahankan Kemerdekaan Menuju Perjuangan Kemanusiaan
Tanggal 22 Oktober 1945 merupakan salah satu titik penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Pada hari itu, para ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman penjajahan.
Seruan tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 masih menghadapi ancaman nyata. Kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi kepentingan kolonial Belanda memunculkan situasi genting. Di tengah keadaan tersebut, para ulama menyadari bahwa kemerdekaan bukan sekadar urusan politik, melainkan juga amanah moral yang harus dipertahankan.
Resolusi Jihad menjadi bukti bahwa pesantren tidak pernah benar-benar terpisah dari denyut kehidupan bangsa. Para kiai dan santri tidak hanya mendidik umat dalam persoalan ibadah, tetapi juga membangun kesadaran tentang kewajiban menjaga tanah air.
Semangat itu turut mengobarkan perjuangan rakyat, khususnya dalam pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Dari sana kita belajar bahwa keberanian santri bukan semata-mata keberanian fisik, melainkan keberanian moral untuk mempertahankan sesuatu yang diyakini benar.
Dalam konteks hari ini, Resolusi Jihad perlu dibaca secara lebih luas. Jihad tidak boleh dipersempit menjadi romantisme pertempuran masa lalu. Ia harus dimaknai sebagai kesungguhan dalam memperjuangkan kebaikan, menegakkan keadilan, melawan kebodohan, dan menghadirkan kemaslahatan.
Jika dahulu musuh bangsa hadir dalam bentuk penjajahan fisik, kini ancaman dapat muncul melalui kebodohan, kemiskinan, korupsi, intoleransi, penyebaran kebencian, dan ketidakpedulian terhadap sesama.
Santri yang mengabaikan pendidikan, membiarkan ketidakadilan, atau menggunakan agama untuk merendahkan orang lain sesungguhnya belum sepenuhnya memahami ruh perjuangan para pendahulunya.
Maka, semangat Resolusi Jihad harus diteruskan menjadi resolusi peradaban. Sebuah tekad untuk membangun manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Peran Santri di Era Modern: Menjaga Tradisi, Menguasai Teknologi
Kita hidup dalam zaman ketika pengetahuan bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahaminya. Teknologi kecerdasan buatan, media sosial, dan perkembangan digital telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan memahami agama.
Dalam situasi ini, santri menghadapi tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga harus mampu menjadi pelaku perubahan.
Ada anggapan bahwa pesantren identik dengan dunia tradisional yang lambat beradaptasi. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Tradisi pesantren justru menyimpan modal penting untuk menghadapi modernitas: kedisiplinan, penghormatan terhadap ilmu, ketekunan, kesederhanaan, dan kekuatan komunitas.
Persoalannya bukan apakah pesantren harus menjadi modern atau tetap tradisional. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana pesantren mampu mengintegrasikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasinya.
Santri perlu memiliki kemampuan literasi digital, berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan berinovasi. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas dakwah, mengembangkan pendidikan, memberdayakan ekonomi masyarakat, serta menyelesaikan persoalan sosial.
Namun, kecakapan teknologi tanpa akhlak dapat melahirkan persoalan baru. Kecerdasan buatan, misalnya, dapat membantu proses pembelajaran dan penelitian, tetapi juga dapat digunakan untuk menyebarkan informasi palsu, melakukan plagiarisme, atau menghasilkan pengetahuan tanpa tanggung jawab.
Di sinilah pesantren memiliki peran strategis. Santri harus dibekali bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, melainkan juga kesadaran etis dalam memanfaatkannya.
Prinsip tabayyun dalam Al-Qur’an menjadi sangat relevan. Surah Al-Hujurat ayat 6 mengingatkan pentingnya memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil keputusan. Dalam kehidupan digital, prinsip ini dapat menjadi fondasi literasi informasi yang beradab.
Santri harus menjadi generasi yang tidak mudah terprovokasi, tidak tergesa-gesa menyebarkan informasi, dan tidak menjadikan media sosial sebagai ruang untuk memperuncing perbedaan.
Dengan demikian, modernitas tidak harus menghilangkan identitas pesantren. Justru, tradisi keilmuan pesantren dapat menjadi kompas moral bagi perkembangan teknologi yang semakin kompleks.
Hakikat Ruh Pendidikan bagi Seorang Santri
Di tengah tuntutan modernisasi, ada satu hal yang tidak boleh hilang dari pendidikan pesantren: ruh pendidikan itu sendiri.
Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan adalah proses membentuk manusia. Ia bukan hanya tentang apa yang diketahui seseorang, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan itu membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Dalam tradisi pesantren, pendidikan memiliki hubungan erat dengan konsep adab. Seorang santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu, tetapi juga memahami kedudukan ilmu dalam kehidupan. Ilmu harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan; kepedulian, bukan ketidakpedulian; serta kebijaksanaan, bukan sekadar kemampuan berdebat.
Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat mendasar tentang tujuan pendidikan. Dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 2, Allah menggambarkan tugas Rasulullah saw. sebagai pembaca ayat-ayat-Nya, penyuci jiwa manusia, dan pengajar kitab serta hikmah.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa pendidikan memiliki dimensi intelektual sekaligus spiritual. Pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari pembentukan jiwa. Kecerdasan tidak cukup jika tidak disertai kebersihan hati dan tanggung jawab moral.
Di sinilah pentingnya pendidikan yang tidak kehilangan ruhnya.
Seorang santri yang mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz tentu memiliki capaian yang luar biasa. Namun, capaian itu akan semakin bermakna ketika hafalannya membentuk perilaku. Al-Qur’an tidak hanya hadir dalam ingatan, tetapi juga dalam kejujuran, kedisiplinan, kesantunan, dan kepedulian sosial.
Demikian pula dengan penguasaan kitab kuning. Kemampuan membaca dan memahami literatur klasik harus menjadi pintu untuk membangun pemahaman agama yang mendalam, bukan sekadar kebanggaan atas kemampuan teknis.
Pendidikan pesantren perlu menjaga keseimbangan antara ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib. Pengajaran ilmu harus berjalan bersama proses pembinaan dan pembentukan adab. Ketiganya merupakan bagian penting dari upaya melahirkan manusia yang utuh.
Di Yayasan Pendidikan dan Sosial Baitul Makmur Malang, ruh pendidikan tersebut perlu terus dihidupkan melalui integrasi pendidikan formal, tahfiz Al-Qur’an, pembiasaan ibadah, pembinaan karakter, dan pengembangan kemandirian.
Santri tidak hanya dididik untuk berhasil dalam ujian, tetapi juga untuk memiliki kemampuan menghadapi kehidupan. Mereka perlu belajar menghargai orang lain, bertanggung jawab terhadap tugas, menjaga lingkungan, serta memahami bahwa keberhasilan pribadi tidak boleh terpisah dari kemaslahatan masyarakat.
Sebab, pendidikan yang berhasil bukan hanya melahirkan manusia yang cerdas, melainkan juga manusia yang tahu untuk apa kecerdasannya digunakan.
Peran Santri dalam Membangun Negeri: Dari Pesantren untuk Indonesia Emas
Tema Hari Santri Nasional 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, mengandung pesan yang sangat penting. Santri tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pembangunan bangsa. Mereka harus hadir sebagai bagian dari solusi.
Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target ekonomi atau kemajuan teknologi. Ia merupakan cita-cita tentang lahirnya bangsa yang maju, berkeadilan, berdaulat, dan bermartabat. Untuk mewujudkannya, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab sosial.
Pesantren memiliki potensi besar untuk mengambil bagian dalam agenda tersebut.
Pertama, santri harus menjadi penggerak pendidikan. Mereka dapat berkontribusi melalui pengajaran, penelitian, pengembangan literasi, dan pemberdayaan masyarakat. Santri yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dapat mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif. Santri yang menguasai teknologi dapat membantu masyarakat meningkatkan literasi digital.
Kedua, santri harus mengambil peran dalam penguatan ekonomi. Tradisi kemandirian pesantren dapat dikembangkan melalui kewirausahaan, koperasi, dan berbagai usaha produktif. Pendidikan ekonomi di pesantren tidak hanya bertujuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga membangun etos kerja, kejujuran, dan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat.
Ketiga, santri harus menjadi penjaga persatuan. Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Perbedaan agama, suku, bahasa, dan budaya merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Santri harus mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana pesan Surah Al-Anbiya ayat 107.
Keempat, santri harus memiliki kepedulian terhadap persoalan lingkungan. Krisis ekologis bukan hanya persoalan ilmiah, tetapi juga persoalan moral dan keagamaan. Menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah fi al-ardh. Pesantren dapat menjadi ruang pembelajaran tentang kebersihan, pengelolaan sampah, penghijauan, dan kesadaran ekologis.
Semua peran tersebut menunjukkan bahwa pengabdian santri tidak dibatasi oleh ruang masjid atau pesantren. Santri dapat hadir di ruang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, kebudayaan, dan teknologi. Yang membedakan santri bukan semata-mata tempat ia belajar, melainkan nilai yang ia bawa dalam setiap pengabdiannya.
Di Baitul Makmur Malang, cita-cita tersebut menemukan relevansinya. Sebagai lembaga pendidikan dan sosial yang menaungi berbagai jenjang pendidikan, Baitul Makmur memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang mampu mengintegrasikan kekuatan spiritual, intelektual, dan sosial.
Pendidikan tahfiz harus berjalan bersama pengembangan ilmu pengetahuan. Pendidikan karakter harus berjalan bersama pembentukan kemandirian. Tradisi pesantren harus menjadi fondasi bagi keberanian berinovasi.
Dengan demikian, santri Baitul Makmur tidak hanya diharapkan menjadi generasi yang saleh secara individual, tetapi juga memiliki kesalehan sosial. Mereka harus mampu membaca kebutuhan masyarakat dan mengambil peran dalam menyelesaikannya.
Dari Resolusi Jihad Menuju Resolusi Peradaban
Pada akhirnya, Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan tentang siapa kita, melainkan tentang apa yang harus kita lakukan.
Resolusi Jihad mengajarkan bahwa cinta agama dan cinta tanah air dapat berjalan dalam satu tarikan napas. Sejarah itu telah memberi kita pelajaran bahwa pesantren bukan hanya tempat mendidik manusia untuk kehidupan akhirat, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran tentang tanggung jawab kehidupan dunia.
Hari ini, perjuangan itu harus diteruskan dengan cara yang lebih luas. Santri harus berani melawan kebodohan dengan ilmu, melawan kemiskinan dengan kemandirian, melawan kebencian dengan persaudaraan, serta melawan krisis moral dengan keteladanan.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Yayasan Pendidikan dan Sosial Baitul Makmur Malang hendaknya menjadi momentum untuk memperbarui tekad tersebut.
Kita tidak ingin melahirkan santri yang hanya pandai mengenang sejarah, tetapi tidak mampu menjawab tantangan zaman. Kita juga tidak ingin melahirkan generasi yang menguasai teknologi, tetapi kehilangan adab dan arah kehidupan.
Yang kita harapkan adalah santri yang berakar kuat pada tradisi, berpikiran terbuka terhadap kemajuan, dan memiliki keberanian untuk mengabdikan ilmunya bagi masyarakat.
Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita kuasai, tetapi juga oleh seberapa kuat karakter manusia yang menggunakannya.
Dari pesantren, kita belajar bahwa ilmu harus memiliki arah, kecerdasan harus memiliki adab, dan kemerdekaan harus memiliki tanggung jawab.
Jika Resolusi Jihad dahulu menjadi ikhtiar mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini kita membutuhkan resolusi peradaban: sebuah tekad kolektif untuk membangun Indonesia yang lebih berilmu, berakhlak, adil, dan bermartabat.
Wallahu a’lam. Selamat Hari Santri Nasional 2026!





